Sebungkus rokok dan segelas kopi seekor kucing peliharaaan mix anggora - persia. Dan sepertinya ini bungkus rokokku yang terakhir untuk beberapa hari kedepan, mungkin bisa jadi beberapa minggu kedepan.
Pagi hari ini banyak kata-kata yang hendak aku tuangkan dalam tulisan, sekedar aku berteriak dalam keheningan dan kesenyapan yang timbul hanyalah rentetan tulisan yang berisikan teriakan ku....
Aku berpendapat tidak hanya ketika kita jatuh cinta kita dapat menuliskan sesuatu syair, namun di kondisi lainnya misalnya ketika aku sakit seperti ini aku mempu menuangkan apa yang aku ingin tuliskan sesuai kondisiku, begitu pula dalam kondisi emosional lainnya...
Aku tahu apa yang aku tuliskan, dengan kesadaran penuh aku menuliskan syair-syair dan sajak-sajak ku, serta paragraf demi paragraf, aku menulis karena aku senang realitas, fiksional, deskriptif, konotasi bentuk tulisan yang aku tuangkan. Berbeda dengan keadaan "Aku menulis karena aku senang menulis.."
Diawali cerita fiksi ada cerita bahwa batu akan menjadi hancur oleh kucuran air yang menetes pada permukaannya, sebelum aku tahu aku tidak percaya dan pemikiran rasionalku belum sampai ke arah situ. Sampai pada suatu ketika ada pembuktian secara ilmiah tentang bagaimana menghancurkan batu dengan air, baru aku percaya 100% bahwa hal tersebut adalah nyata dan ilmiah, ya benar tetesan air dapat menghancurkan benda keras. Seperti terbentuknya jajaran tebing batu di pinggir pesisir pantai yang bertebing batu dimana tebing tersebut langsung menyentuh ke laut dan di hantam ombak yang terus bergerak menghempas tebing batu, dalam waktu yang tidak sebentar perlahan tapi pasti, tebing batu tersebut pun terkikis oleh air laut yang menghempasnya. Bukanlah suatu yang luar biasa namun itu adalah gejala alam yang terjadi dan sudah terjadi sejak ribuan tahun.
Seringkali aku merasa pilu betapa lemahnya aku, tidak seperti tebing batu yang mampu menahan hempasan ombak selama ribuan tahun, tidak seperti ombak yang berkali-kali menghempas tebing batu selama ribuan tahun. Aku lemah daripada itu seperti daun yang sangat mudah sekali sobek dan layu kemudian jatuh dan terurai. Aku tidak iri kepada yang kuat, dan aku tidak iri kepada yang pandai. Dilain kata aku menganggap diriku bodoh dalam kesakitanku dan aku masih belajar dalam masa-masa ku saat ini, dan mungkin aku akan sendiri karena kebodohanku, ketidaktahuanku.....Hanya waktu yang bergulir pelan membantuku untuk tetap bertahan dalam kesadaran penuh kesadaran bahwa walau aku mengalami sindrom schizopernia aku masih bisa bernafas dan kesadaranku perlahan pulih. Dan aku tetap bersykur kepada kesadaranku untuk tetap tegar.....
