Aku bukanlah seorang yang pandai untuk bertutur kata, bahkan menulis kata-kata yang halus dan sopan aku tidak begitu pandai, sekarang aku mencoba menulis untuk sebuah syair, semoga bisa dimengerti syairku:
Terngiang hembusan angin membawa suara gemuruh dari masa lalu
berdenging di telingaku hingga aku harus menutup telingaku rapat-rapat
suara miring, sura mencekam, suara menyakitkan,
Deru nafasku terburu seiring aku mendengar suara yang terbawa angin
akankah ini merupakan hukumanku atas ketidak tahuanku
atas kebodohanku,
atas ketidak mengertianku
atas ketidak sempurananku...
lalu diamanakan keadilan untuk ku berada, apakah ditangan orang yang benar?
benar akan apa? benar yang mana? tak sanggup aku memikirkannya, lalu kubuang jauh-jauh pikiranku tersebut
Setiap aku menunjuk kepada orang lain, disitu pula rasa sakit yang aku alami muncul,
azas praduga tak bersalah tetap aku pegang sampai kapanpun...
Tulisan syair inilah yang sangat adil bagiku,
Aku berkoar akan kesakitanku tanpa ada yang mendengar
Sebungkus rokok aku hisap satu persatu, menemani jalan pikiranku yang mengucur bagaikan air hujan turun malam ini...sangat deras
Cermin cermin ilusi muncul dihadapanku membawa berita akan masa lalu ku,
tentang hubungan ku dengan kekasih-kekasih yang pernah aku singgahi
memang sudah menjadi cerita usang bahwa setiap hubunganku akan kandas
aku salah dan mereka benar, aku benar dan meraka salah,
Tak sanggup aku untuk menyalahkan mereka, karena keadaan ku yang demikian ringkih
keadaanlah yang menjadi kambing hitam, bukan manusia atau benda lain, namun keadaan
Kehilangan adalah paronia bagiku, aku sangat sulit untuk kehilangan orang-orang yang terkasih, namun keadaan berkata beda membuat mereka harus pergi, sekalilagi aku kehilangan
Bagaikan bunga kapas yang aku lepas dan terbawa angin, aku merelakan mereka pergi dan takkan kembali, dan aku takkan mencari dan berlalu, karena masa lalu adalah ilusi, dan ilusi bagiku adalah tidak pernah nyata
Hidupku tidak pernah nyata, tapi aku hidup dalam kenyataan
Tidak menyalahkan mereka yang merasa religius atau spiritualitas, dan aku menghormati mereka
apapun yang dikatakan mereka aku hormati, walau terkadang aku menunduk untuk memberi rasa hormat tanpa segan dan bimbang.
Karena aku sendiri menghormati diriku sebagai orang yang tidak religius
Aku ingin dalam kehidupanku hanya damai di sekeliling aku tempat tinggalku dirumahku bersama keluarga kecilku, bersama orang orang yang aku sayangi dan menyayangi aku.
Mungkin aku akan sendiri, tapi setidaknya aku pernah bersama orang-orang yang aku sayangi