Momento Memory of Compilation
Tuesday, September 29, 2015
Momento memories 14
Namanya Shadow Flash...hewan peliharaan ku yang baru umurnya sudah 10 bulan jenis anjing kintamani. Tingkahnya sungguh menggemaskan sangat suka bercanda, manjat, dan gigit gigit apa saja yang bisa di gigit. Tingkahnya memang sok imut tapi bikin jengkel.
Apa lagi kalau dia memanjat dia senang sekali manjat jendela yang dimana jendalaku tinggi 80 cm dan Flash suka memanjat masuk ke kamar lewat jendela. Memang jenis kintamani suka berbuat hal demikian, dasar anjing gunung ia suka berlari-lari, manjat apa saja dan jahil suka menggigit apa saja yang bisa ia masukkan kemulutnya.
"Man best friend" ungkapan atas anjing dan aku sangat setuju dengan hal tersebut, dikala aku sendiri flash selalu menjadi sahabat terbaikku. Walau terkadang menjengkelkan hehehehe.....
Dan dengan adanya flash aku punya anggota keluarga baru di keluargaku. Terimakasih Flash
Momento Memory 15
Menurut Deleuze "Tubuh adalah menjadi objek persaingan. Antara kekuatan aktif hasrat dan kekuatan reaktif modal...."
Friday, March 6, 2015
Momento memory 13
Pagi ini udara terasa segar ku hirup, satu album X&Y musik Coldplay kuputar melalui headsetku. Tampak Shadow (peliharaan kucing mix anggora-persia ku) bermain-main dengan sebongkah kertas di lantai, sangat imut. Atau memang dia mencoba agar terlihat imut hingga mencuri perhatianku, tapi dia berhasil mencuri perhatianku. Ku elus kepalanya bulunya terasa sangat halus, dan terlihat bola matanya berbinar-binar ketika ku elus, sungguh imut.
Teringat kata-kata dari sebuah buku "jalan masih panjang nak" ya kucoba menikmati hidupku saat ini dengan keterbatasan yang aku miliki. Masa lalu tidak bisa kembali dan masa depan siapalah yang tahu, semua adalah ilusi yang hanya reaksi imajinasi otak, setidaknya itu menurutku, tapi lebih amannya hanya itu yang ku tahu...
Dan aku pun memulai syairku pagi ini, entah apakah aku membuat syair yang baik sesuai hierarki syair yang benar aku tak mau memikirkannya.....
adalah kosong, ketika pikiran kosong bukan kosong karena dikosongkan karena tidak mau membuatnya penuh...
adalah jenuh, ketika pikiran penuh dengan dilema yang terus membanjiri pikiran hingga pikiran menjadi keruh dan jenuh...
Adalah lelah, ketika badan maupun pikiran terus mengolah setiap kejadian setiap saat tanpa istirahat dan kemudian timbul ke ausan pada setiap elemen tubuh dan pikiran sehingga menjadi lelah....
adalah hampa, ketika udara menjadi hilang dan gravitasi menjadi nol, tubuh melayang ringan tanpa beban karena udara yang hampa, pikiran tetap terjaga dalam kondisi apapun walau disekitar badan hampa....
Adalah istirahat, dimana keadaan tubuh maupun pikiran kembali kepada keadaan stagnan, bebas dari segala macam aktivitas yang melibatkan tubuh dan pikiran...
Momento memory 12
Teringat masa puber dimana perkembangan kejiwaan ku mengalami pemberontakan. Pemberontakan terhadap sistem yang ada, dan aku sadari saat itu aku salah karena aku belum tahu apa itu sistem. Sampai pada suatu ketika, jiwa memberontak masih aku miliki. Hingga bertahun-tahun; sekarang sampai saat ini aku baru sadari aku telah terlampau jauh masuk kedalam alam pikiranku yang sempit yang hanya terkekang oleh benar-salah, hitam-atau putih, besar atau kecil. Dan kini aku tahu itu hanyalah garis maya tidak nyata dan tidak pernah ada. Hanya pikiran kita yang menelaah sesuatu yang kita rasakan, lihat, dengar dengan panca indra kita.
Bahkan aku sempat membaca tentang scince untuk jenis gelombang otak yang dapat dipelajari untuk kabaikan hidup ku, ada lima jenis gelombang otak alpha, Beta, theta, delta, gamma, hypergama. Masing-masing dimiliki oleh tiap orang berbeda, dari orang normal, spirituil, hingga ilmuwan. Secara scientific aku percaya akan hal tersebut karena telah dibuktikan secara ilmiah adanya kelima macam gelombang tersebut. Dan sudah banyak informasi yang bisa di dapatkan tentang penelitian tersebut.
Sesuatu yang bisa membuat aku merasa lebih hidup itulah yang aku sukai, bukan lagi memberontak dengan sistem yang ada namun sekarang perkembangan pemikiran manusia termasuk aku juga mengalamai perkembangan yang pesat. Bahakan sudah dimulai dari beberapa tahun yang lalu pendaftaran untuk siapa yang ingin tinggal di mars sebagai kelompok manusia pertama yang mengkolonisasi mars. Ya aku sempat mendaftar dan aku masuk terpilih untuk berangkat namun harus bayar sekian dolar sebagai syarat pendaftaran dan aku tidak sanggup bayar karena tidak punya perak untuk membayar sejumlah yang di sebutkan dalam pendaftaran tesebut. Aku berpendapat untuk tinggal di mars aku bisa memulai hidup baru di tempat planet yang benar.-benar belum terjamah, sebagai kelompok manusia pertama yang mengkolonisasi mars aku pikir itu mangasyikkan..tapi ya sudahlah akhirnya aku juga tidak bisa ikut juga karena keterbatasanku tidak memiliki finansial yang lebih..hehehehehe
Momento memory 11
![]() |
| Shangrila |
"Aku menundukkan malu kepada sang Maha Guru yang tak tersentuh, sembah sujudku padaMu wahai maha guru, Hamba hanyalah manusia yang hina dan tanpa tau diri datang kepadaMu dan menyebut namaMu, hamba bersujud-hamba bersujud. Ampunilah ketidaktahuan hamba, kebodohan hamba, kecerobohan hamba hingga mengusik ketenanganmu wahai Maha Guru. Adalah kehendakMu, IjinMU hamba dapat bertemu Engkau wahai maha Guru, ampunilah hamba; Engkau maha tampan dan maha wibawa, sebilah tombak trisula ada di tangan kananmu, Engkau sungguh gagah di atas singasanamu. Hamba bersujud, beribu-ribu ampun atas kelancangan hamba menyebut namaMu dan menatapMu. Hamba bergembira telah bertemu denganMu, Hamba betatap muka denganMu wahai Maha Guru, hamba bersyukur akan hal itu..."
Kemudian setelah Aku bergumam kalimat tersebut, Aku kembali kepada kesadaranku dan kembali tidur rebah. Aku menyadari aku berkhayal antara realitas dan fiksi yang tidak aku tahu, itu hanyalah khayalan pikiranku sendiri ilusi pikiran yang seolah olah melihat sesuatu yang spesifik. Syukurlah ternyata itu hanyalah ilusi pikiran karena kondisi kesehatanku yang sakit. Kemudian malam berlalu dan aku kembali terlelap untuk menatap matahari esok pagi.....
Thursday, March 5, 2015
Momento memory 10
Sebungkus rokok dan segelas kopi seekor kucing peliharaaan mix anggora - persia. Dan sepertinya ini bungkus rokokku yang terakhir untuk beberapa hari kedepan, mungkin bisa jadi beberapa minggu kedepan.
Pagi hari ini banyak kata-kata yang hendak aku tuangkan dalam tulisan, sekedar aku berteriak dalam keheningan dan kesenyapan yang timbul hanyalah rentetan tulisan yang berisikan teriakan ku....
Aku berpendapat tidak hanya ketika kita jatuh cinta kita dapat menuliskan sesuatu syair, namun di kondisi lainnya misalnya ketika aku sakit seperti ini aku mempu menuangkan apa yang aku ingin tuliskan sesuai kondisiku, begitu pula dalam kondisi emosional lainnya...
Aku tahu apa yang aku tuliskan, dengan kesadaran penuh aku menuliskan syair-syair dan sajak-sajak ku, serta paragraf demi paragraf, aku menulis karena aku senang realitas, fiksional, deskriptif, konotasi bentuk tulisan yang aku tuangkan. Berbeda dengan keadaan "Aku menulis karena aku senang menulis.."
Diawali cerita fiksi ada cerita bahwa batu akan menjadi hancur oleh kucuran air yang menetes pada permukaannya, sebelum aku tahu aku tidak percaya dan pemikiran rasionalku belum sampai ke arah situ. Sampai pada suatu ketika ada pembuktian secara ilmiah tentang bagaimana menghancurkan batu dengan air, baru aku percaya 100% bahwa hal tersebut adalah nyata dan ilmiah, ya benar tetesan air dapat menghancurkan benda keras. Seperti terbentuknya jajaran tebing batu di pinggir pesisir pantai yang bertebing batu dimana tebing tersebut langsung menyentuh ke laut dan di hantam ombak yang terus bergerak menghempas tebing batu, dalam waktu yang tidak sebentar perlahan tapi pasti, tebing batu tersebut pun terkikis oleh air laut yang menghempasnya. Bukanlah suatu yang luar biasa namun itu adalah gejala alam yang terjadi dan sudah terjadi sejak ribuan tahun.
Seringkali aku merasa pilu betapa lemahnya aku, tidak seperti tebing batu yang mampu menahan hempasan ombak selama ribuan tahun, tidak seperti ombak yang berkali-kali menghempas tebing batu selama ribuan tahun. Aku lemah daripada itu seperti daun yang sangat mudah sekali sobek dan layu kemudian jatuh dan terurai. Aku tidak iri kepada yang kuat, dan aku tidak iri kepada yang pandai. Dilain kata aku menganggap diriku bodoh dalam kesakitanku dan aku masih belajar dalam masa-masa ku saat ini, dan mungkin aku akan sendiri karena kebodohanku, ketidaktahuanku.....Hanya waktu yang bergulir pelan membantuku untuk tetap bertahan dalam kesadaran penuh kesadaran bahwa walau aku mengalami sindrom schizopernia aku masih bisa bernafas dan kesadaranku perlahan pulih. Dan aku tetap bersykur kepada kesadaranku untuk tetap tegar.....
Pagi hari ini banyak kata-kata yang hendak aku tuangkan dalam tulisan, sekedar aku berteriak dalam keheningan dan kesenyapan yang timbul hanyalah rentetan tulisan yang berisikan teriakan ku....
Aku berpendapat tidak hanya ketika kita jatuh cinta kita dapat menuliskan sesuatu syair, namun di kondisi lainnya misalnya ketika aku sakit seperti ini aku mempu menuangkan apa yang aku ingin tuliskan sesuai kondisiku, begitu pula dalam kondisi emosional lainnya...
Aku tahu apa yang aku tuliskan, dengan kesadaran penuh aku menuliskan syair-syair dan sajak-sajak ku, serta paragraf demi paragraf, aku menulis karena aku senang realitas, fiksional, deskriptif, konotasi bentuk tulisan yang aku tuangkan. Berbeda dengan keadaan "Aku menulis karena aku senang menulis.."
Diawali cerita fiksi ada cerita bahwa batu akan menjadi hancur oleh kucuran air yang menetes pada permukaannya, sebelum aku tahu aku tidak percaya dan pemikiran rasionalku belum sampai ke arah situ. Sampai pada suatu ketika ada pembuktian secara ilmiah tentang bagaimana menghancurkan batu dengan air, baru aku percaya 100% bahwa hal tersebut adalah nyata dan ilmiah, ya benar tetesan air dapat menghancurkan benda keras. Seperti terbentuknya jajaran tebing batu di pinggir pesisir pantai yang bertebing batu dimana tebing tersebut langsung menyentuh ke laut dan di hantam ombak yang terus bergerak menghempas tebing batu, dalam waktu yang tidak sebentar perlahan tapi pasti, tebing batu tersebut pun terkikis oleh air laut yang menghempasnya. Bukanlah suatu yang luar biasa namun itu adalah gejala alam yang terjadi dan sudah terjadi sejak ribuan tahun.
Seringkali aku merasa pilu betapa lemahnya aku, tidak seperti tebing batu yang mampu menahan hempasan ombak selama ribuan tahun, tidak seperti ombak yang berkali-kali menghempas tebing batu selama ribuan tahun. Aku lemah daripada itu seperti daun yang sangat mudah sekali sobek dan layu kemudian jatuh dan terurai. Aku tidak iri kepada yang kuat, dan aku tidak iri kepada yang pandai. Dilain kata aku menganggap diriku bodoh dalam kesakitanku dan aku masih belajar dalam masa-masa ku saat ini, dan mungkin aku akan sendiri karena kebodohanku, ketidaktahuanku.....Hanya waktu yang bergulir pelan membantuku untuk tetap bertahan dalam kesadaran penuh kesadaran bahwa walau aku mengalami sindrom schizopernia aku masih bisa bernafas dan kesadaranku perlahan pulih. Dan aku tetap bersykur kepada kesadaranku untuk tetap tegar.....
Momento Memory 09
"Itu...itu...itu...itu...ini...ini...ini" gaungan suara yang membayangi pikiranku membuatku linglung, keadaan antara realita dan fiksi membuatku takut, takut akan terluka, takut akan kehilangan rasa yang ada hanyalah kehampaan pikiran karena ketakutan. Kemudian kembali gaungan suara "dia, dia,dia,dia dan dia...." membuat realitas fiksi akan kenyataan. Antara dunia pikiran dan dunia realitas, mencampur dalam keadaan nyata dan tak nyata akan pikiran yang dilanda ketakutan...Sejenak hening, sejenak penuh dengan memory baik dan buruk pada pikiran, membuat badan terhuyung, letih dan nafas pun tersengal karena lelah akan nuansa fiksi dalam pikiran..KEMBALI PADA REALITA masih ada masa depan yang harus diperjuangkan, hidupku dan orang yang dekat denganku...bukan mereka yang tak ku kenal, bukan mereka yang tak mengenal, bukan mereka yang tak pernah ku kenal...kembali aku menjadi penyair akan diriku sendiri, akan kalutnya pikiranku akan nuansa fiksi yang kerap kali muncul membayangi setiap deru nafasku...sesak...sesak...sesak dan sesak nafas ini.
Mata pencaharianku yang menuntutku untuk menghayal dengan pikiranku untuk aku bekerja dan menghasilkan perak, aku bukan pekerja otot untuk menghasilkan perak, bukan aku mengecilkan tapi itu bukan mata pencaharianku dan akupun menghormati hal itu...Pikiranku yang ternoda oleh kekalutan akan ketakutan dan fiksi yang di ciptakan oleh realitas yang aku tidak pernah terpikirakan untuk melewatinya...mungkin aku jenuh...kemudian akupun meruntut setiap detail yang aku jalani dari awal dan akupun mencoba membetulkan apa yang telah kulewati, dan serentak aku terhenyak oleh realitas akan keadaan fisik mentalku...akupun menolak terhadap apa yang ku derita namun realitas berkata beda...schizo...schizo...schizo...schizo....bertahun tahun ini aku menderita hal tersebut dan aku tidak mengetahui apa nama yang aku derita pada mental psikisku, tidak setelah aku mencari pengobatan dengan caraku sendiri dan akupun menemukan jawaban tersebut....schizo ya schizo ya schizo..schizo.....................dan pencaharianku pun berakhir, sudah cukup bagiku..cukup
Hei! aku jadi penyair akan sakitku sendiri, akupun menghibur diriku untuk bertutur dalam syairku. Entah siapa yang akan membaca syairku, aku tidak pernah tahu. Hanya rasa syukur untuk kehidupan yang aku jalani saat ini, aku sudah merasa cukup. Memaafkan diriku akan ketidaktahuanku dan kebodohanku di masa lalu, hanya itu yang bisa aku lakukan....hari masih berganti dan masa lalu telah pudar, dan tidak pernah ada, bagiku tidak ada yang bisa kembali ke masa lalu...hanya aku harus melanjutkan hari-hariku...dan akupun melanjutkan hari-hari ku sampai sekarang....
Saat ini, saat aku menulis ini hari telah larut petang, hanya aku dan kesadaranku untuk menuangkan tulisan ini, aku tidak bermaksud menyebutnya syair namun sekedar tulisan realitas...ya realitas...realitas yang aku hadapi, ketika kambuh itu timbul terasa berat aku melewatinya berulang kali kambuh dan berat aku rasakan...pikiranku terhenyak oleh ilusi memori kejadian yang pernah aku lewati dan aku takut...takut....dan takut.........dan takut....realitasku fiksiku mencampur menjadi satu hingga aku terhenyak oleh realitas fiksi....aku pun bersujud letih, sejenak tertidur, sejenak terbangun, sejenak meronta, sejenak menangis, sejenak merintih...tak bisa ku ungkapkan yang aku rasakan...akupun berkata pada diriku "Hari masih berganti dan berlalu, dan akan tetap demikian..." dan akupun terbangun tersadar oleh fiksiku walau terjatuh dan terbangun, setiap saat.
Subscribe to:
Posts (Atom)









